Dengan nama Allah
Yang Maha Mencintai sepenuhnya
Yang Maha Menyayangi seutuhnya
Segala puji bagi Allah
Pengembang, Pendidik, Pemelihara alam semesta
Yang Mencintai (jagat raya dan seisinya)
Yang Menyayangi (para penempuh jalan kebenaran)
Penguasa mutlak Hari Pertanggungjawaban
Hanya untuk-Mu kami persembahkan hidup ini
Dan hanya dari-Mu kami mengharap pertolongan.
Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan lurus
Jalan orang yang Engkau anugrahi kesempurnaan nikmat
Yang tidak pernah membuat-Mu murka,
Dan tidak pula jalan orang yang tersesat.
“Mari kita resapi bersama dialog berikut:
Ketika sang hamba berucap: “Alhamdulillah rabbil aalamiin (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).”
Tuhan berujar: “Hamba-Ku sedang memuji-Ku”
Ketika hamba memuji: “Arrahmaanirrahim (Yang Maha Menyayangi dan Mecintai, sepenuhnya dan seutuhnya).”
Tuhan berkata: “HambaKu sedang memuliakan-Ku.”
Ketika hamba berkata dengan rendah hati: ”Maaliki yaumiddin (Penguasa hari berbangkit).
Tuhan menimpali: “HambaKu sedang meninggikan namaKu, atau hambaKu menyerahkan segala urusannya kepadaKu).”
Ketika hamba berikrar dengan sepenuh jiwanya: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya dariMu kami memohon pertolongan).”
Tuhan menegaskan: “Ini adalah kesepakatan antara Aku dan Hambaku, dan hambaKu akan mendapatkan apapun yang dia minta.”
Ketika hamba memohon: “Ihdinas shiraathal mustaqiim. Shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhdhaalliin (Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan lurus, jalan orang-orang yang Kau anugrahi nikmat, bukan jalan orang yang Kau murkai).”
Tuhan berjanji: “Ini khusus untuk hambaKu. Dan kupastikan bagi hambaKu apa yang dia minta.”
:')
from: yusufmansur.com